Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membaca Sastra Pesantren

 

Membaca sastra pesantren

Membaca Sastra Pesantren

(Indonesia yang Kalah)


Dinamika pesantren dan sejarahnya (orang-orang dan generasi pengikutnya) memiliki nuansa sendiri yang tak pernah mati. Berbeda dari sastra Indonesia yang baru tumbuh. Sastra pesantren terus hidup meskipun dalam nuanhsa dan gaya berbeda.


Ketika Arus Balik menggambarkan bangsa yang terpaksa mengundurkan diri ke pedalaman sehingga lapangan luas maritim tak lagi mampu berkuasa, sastra pesantren terus merambat pelan membangun jalur Mekah-Nusantara. Meskipun ada indikasi memiliki jalur hingga Mesir dan pantai utara Afrika, namun perlu penelitian lebih lanjut untuk membuka cakrawala ini. Karena, sebagai bangsa pelaut yang memiliki rekam jejak hingga ke Madagaskar, tentu hal ini semestinya memiliki jejak pula ke belahan utara Asia seperti India, China, bahkan Jepang.


Memang, sastra Nusantara belum ditemukan memiliki "track record" yang jauh dikenal di belahan dunia yang lain, kecuali penulis-penulis pesantren yang mengikuti kuliah di Mekah, bahkan menjadi mufti dan imam Masjidil Haram. Informasi-informasi untuk mengenal Nusantara pun mesti melelui referensi-referensi dari berita-berita China, India, Arab, bahkan Eropa. Tidak ada informasi-informasi yang terdokumentasi dengan baik tentang dunia luar itu sendiri. Sedikit beberapa babad yang mengisahkan perjalanan ke negeri Champa, namun kualitas babad itu sendiri masih sering dipertanyakan, karena lahir setelah ada campur tangan bangsa-bangsa Eropa di dalamnya. Kecurigaan itu memang ada.


Sebagai bangsa yang selalu menerima "kehadiran", Indonesia hingga kini hanya sebagai negara penerima. Bukan bangsa yang mampu mengeksploitasi khazanah dunia, kecuali melalui sastra pesantren. Sebagai contoh dan banyak contoh, K.H. Said Aqil Siroj menulis buku tentang dunia sufisme yang menjadi milik "bangsa lain". Dieksplorasi di negara yang sudah meninggalkan sufisme itu sendiri, Arab (di bawah kuasa keluarga) Saudi. Sementara sarjana-sarjana Indonesia yang kuliah di negara-negara Barat cenderung dipaksa memilih obyek kajian tentang bangsanya sendiri, bukan bangsa yang ditempati belajar. Misal, orang Indonesia yang akan meneliti sejarah Yahudi atau Nazi tidak pernah mendapat akses yang cukup untuk menelitinya. Tidak ada kritik kecuali mempersembahkan pujian-pujian terhadap kemajuan dunia Barat. Informasi tentang dunia Barat harus diterima dari bacaan-bacaan kacamata mereka tentang diri mereka.


Indonesia tidak turut membentuk peradaban dunia luar, kecuali dibentuk seperti sastra kolonial. Melalui sastra pesantren, bangsa Indonesia/Nusantara turut membentuk dunia Arab yang sedang kalah

Post a Comment for "Membaca Sastra Pesantren"