Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tauhid, Menjadi Obyek yang Sempit

Tauhid menjadi objek yang sempit



Tauhid, Menjadi Obyek yang Sempit


Perlu penelitian serius untuk mengungkapkan "kemanunggalan" dalam lafal "Bhinneka Tunggal Ika" sebagai sebuah pemahaman agama, bukan budaya. Sehingga sila pertama yang berketuhanan yang Maha Esa dapat diterima oleh semua agama di Indonesia.


Di dalam sejarah muslim, tauhid pada dasarnya adalah bidang studi yang sempit. Hanya spesifikasi dari perdebatan Kalam. Di dalam sejarah muslim, perdebatan esensi dan eksistensi ketuhanan menjadi persoalan belakangan setelah diawali oleh perdebatan Kalam. Berbeda halnya dengan sejarah Yunani yang mengedepankan persoalan esensi dan eksistensi tersebut. Maka, wajar, jika kemudian perdebatan menghasilkan suatu rumusan yang berpusat pada Theos (Tuhan) sebagaimana filosof bertanya tentang asal kejadian.


Di dalam bukunya "Rahuvana Tattwa", Agus Sunyoto menggambarkan kelompok pembawa Tauhid melalui jalur Waisnawa. Kelompok yang datang dengan ras yang berbeda daripada kelompok pertama, Syiwa Sidhanta, penghuni benua Jambhudwipa. Secara eksplisit, di dalam buku tersebut memang tidak disebutkan sebuah pertarungan teologis, selain pertarungan antar ras, timur dan barat. Waisnawa, pengikut Wisnu (Zeus), merupakan bangsa yang datang dari Eropa, ras Aria dan Dewa Godam (Thor), untuk menguasai dunia timur yang dikuasai oleh kaum Syiwa Sidhanta.


Dari sini kemudian, Tauhid (Keesaan Tuhan) mulai menjadi pokok persoalan umat hampir di seluruh agama, terutama umat Islam. Tauhid secara normatif hanya menjadi bagian kecil di dalam persoalan umat Islam. Jauh lebih besar pada persoalan Kalam (Ujaran Tuhan). Tauhid secara historis lebih spesifik pada paham kebapakan (patriarki), terutama pada tiga agama besar Abarahamic (Nasrani, Yahudi, dan Muslim), karena diturunkan kepada Bapak Pertama (Adam As) dan dikukuhkan oleh ketundukan (Hanif) Ibrahim As.

Post a Comment for "Tauhid, Menjadi Obyek yang Sempit"