Bagaimana sebuah mazhab bisa besar?
Bagaimana sebuah mazhab bisa besar?
Sebuah mazhab bisa besar apabila mampu mereformulasi, merekonstruksi, dan meredefinisi diri.
Imam Hanafi mampu mereformulasikan "pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan" ke dalam bentuk rasionalitas. Kalau tidak dibilang serba rasio dan orang sekarang bilang liberal. Karena, Imam Hanafi sering menabrak teks dan tradisi pada prakteknya.
Yang lebih dekat kepada kompromi terhadap teks adalah Imam Syafi'i, karena berangkat dari nalar sastra. Dalam banyak kasus lebih mendekatkan diri kepada "qiyas" sebagai perumpamaan permisalan dari kasus yang sudah ada dan mendapat legitimasi dari teks.
Bangsa Indonesia tidak mau mengambil risiko dalam bermazhab. Tidak stagnan pada tradisi, tidak pula liberal. Tengah-tengah. Sehingga untuk memelihara dinamisasi selalu diperlakukan suatu formula berpikir sendiri di dalam merespon setiap perubahan pada masa yang berbeda.
Hadratussyekh KHM Hasyim Asy'ari dikenal sebagai seorang Syafiian sebagaimana diakui banyak kalangan. Mazhab Ploso dan Lirboyo adalah representasi dari situs-situs Syafiian peninggalan Beliau, baik praktek, metodologi, dan cara pandang (worldview). Namun, Beliau juga memberi peluang berpikir dan pelaksana mazhab-mazhab lain yang senafas seperti Hanafi, Maliki, dan Hambali. Jika mau konsisten, Beliau semestinya mencukupkan diri saja pada Mazhab Syafi'i tersebut, sebagaimana banyak berkembang di pondok-pondok pesantren, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Post a Comment for "Bagaimana sebuah mazhab bisa besar?"